Thursday, July 19, 2007

[JIMM_PTN] Hamka Tentang Ayat 62 Al-Baqarah dan Ayat 69 Al-Maidah

Republika, Resonansi ,

Selasa, 21 Nopember 2006
Hamka Tentang Ayat 62 Al-Baqarah dan Ayat 69 Al-Maidah

Oleh : Ahmad Syafii Maarif
Pada suatu hari bulan November 2006 datanglah sebuah pesan singkat dari seorang jenderal polisi yang sedang bertugas di Poso menanyakan tentang maksud ayat 62 surat al-Baqarah. Kata jenderal ini pengertian ayat ini penting baginya untuk menghadapi beberapa tersangka kerusuhan yang ditangkap di sana. Karena permintaan itu serius, maka saya tidak boleh asal menjawab saja, apalagi ini menyangkut masalah besar yang di kalangan para mufassir sendiri belum ada kesepakatan tentang maksud ayat itu. Ayat yang substansinya serupa dapat pula ditemui dalam surat al-Maidah ayat 69 dengan sedikit perdedaan redaksi. Beberapa tafsir saya buka, di antaranya Tafsir al-Azhar karya Hamka yang monumental itu.

Sebenarnya saya cenderung untuk menerima penafsiran Buya Hamka dari sekian tafsir yang pernah saya baca, baik yang klasik maupun yang kontemporer. Dalam perkara ini Hamka bagi saya adalah fenomenal dan revolusioner. Agar lebih runtut, saya kutip dulu makna kedua ayat itu menurut tafsir Hamka.

Al-Baqarah 62: "Sesungguhnya orang-orang beriman, dan orang-orang yang jadi Yahudi dan Nasrani dan Shabi'in, barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian dan beramal yang shalih, maka untuk mereka adalah ganjaran dari sisi Tuhan mereka, dan tidak ada ketakutan atas mereka dan tidaklah mereka akan berdukacita. "

Kemudian al-Maidah 69: "Sesungguhnya orang-orang yang beriman, dan orang-orang Yahudi dan (begitu juga) orang Shabi'un, dan Nashara, barangsipa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhirat, dan dia pun mengamalkan yang shalih. Maka tidaklah ada ketakutan atas mereka dan tidaklah mereka akan berdukacita. "

Ikuti penafsiran Hamka berikut: "Inilah janjian yang adil dari Tuhan kepada seluruh manusia, tidak pandang dalam agama yang mana mereka hidup, atau merk apa yang diletakkan kepada diri mereka, namun mereka masing-masing akan mendapat ganjaran atau pahala di sisi Tuhan, sepadan dengan iman dan amal shalih yang telah mereka kerjakan itu. 'Dan tidak ada ketakutan atas mereka dan tidaklah mereka akan berdukacita (ujung ayat 62), hlm.211.

Yang menarik, Hamka dengan santun menolak bahwa ayat telah dihapuskan (mansukh) oleh ayat 85 surat surat Ali 'Imran yang artinya: "Dan barangsiapa yang mencari selain dari Islam menjadi agama, sekali-kali tidaklah tidaklah akan diterima daripadanya. Dan di Hari Akhirat akan termasuk orang-orang yang rugi." (Hlm. 217). Alasan Hamka bahwa ayat ini tidak menghapuskan ayat 62 itu sebagai berikut: "Ayat ini bukanlah menghapuskan (nasikh) ayat yang sedang kita tafsirkan ini melainkan memperkuatnya. Sebab hakikat Islam ialah percaya kepada Allah dan Hari Akhirat. Percaya kepada Allah, artinya percaya kepada segala firmannya, segala Rasulnya dengan tidak terkecuali. Termasuk percaya kepada Nabi Muhammad s.a.w. dan hendaklah iman itu diikuti oleh amal yang shalih." (Hlm 217).

"Kalau dikatakan bahwa ayat ini dinasikhkan oleh ayat 85 surat Ali 'Imran itu, yang akan tumbuh ialah fanatik; mengakui diri Islam, walaupun tidak pernah mengamalkannya. Dan surga itu hanya dijamin untuk kita saja. Tetapi kalau kita pahamkan bahwa di antara kedua ayat ini adalah lengkap melengkapi, maka pintu da'wah senantiasa terbuka, dan kedudukan Islam tetap menjadi agama fitrah, tetap (tertulis tetapi) dalam kemurniannya, sesuai dengan jiwa asli manusia." (Hlm. 217).

Tentang neraka, Hamka bertutur: "Dan neraka bukanlah lobang-lobang api yang disediakan di dunia ini bagi siapa yang tidak mau masuk Islam, sebagaimana yang disediakan oleh Dzi Nuwas Raja Yahudi di Yaman Selatan, yang memaksa penduduk Najran memeluk agama Yahudi, padahal mereka telah memegang agama Tauhid. Neraka adalah ancaman di Hari Akhirat esok, karena menolak kebenaran." (Hlm. 218).

Sikap Hamka yang menolak bahwa ayat 62 al-Baqarah dan ayat 69 al-Maidah telah dimansukhkan oleh ayat 85 surat Ali 'Imran adalah sebuah keberanian seorang mufassir yang rindu melihat dunia ini aman untuk didiami oleh siapa saja, mengaku beragama atau tidak, asal saling menghormati dan saling menjaga pendirian masing-masing. Sepengetahuan saya tidak ada Kitab Suci di muka bumi ini yang memiliki ayat toleransi seperti yang diajarkan Alquran. Pemaksaan dalam agama adalah sikap yang anti Alquran (lih. al-Baqarah 256; Yunus 99).

Terima kasih Buya Hamka, tafsir lain banyak yang sependirian dengan Buya, tetapi keterangannya tidak seluas dan seberani yang Buya berikan. Saya berharap agar siapa pun akan menghormati otoritas Buya Hamka, sekalipun tidak sependirian.

Friday, June 22, 2007

Membangun Cyber-IMM yang Bermartabat

Membangun Cyber-IMM yang Bermartabat

Oleh : Arif Nur Kholis

Kehadiran internet sebagai souvenir akhir abad 21 menjadi hal yang cukup penting untuk disimak bila dihubungkan dengan kesiapan kader kader IMM untuk memanfaatkannya. Dimana IMM, yang seharusnya, sebagai kelompok kader Muhammadiyah, dan juga kader bangsa, yang paling melek teknologi memiliki tantangan untuk menjadi pemimpin dalam pemanfaatannya. Tentu saja tidak sekedar cakap dalam menggunakannya secara teknis, namun juga harus memiliki visi sebagai pelopor yang mampu mengarahkannya sebagai bagian dari gerakan intelektual, gerakan keagamaan dan gerakan advokasi sosial.

Banyak kalangan yang menyatakan bahwa dengan internetlah janji janji keterbukaan akan terealisasikan. Demokratisasi hingga penciptaan dunia tanpa sekat menjadi mimpi mimpi warga dunia melalui internet. Hingga masuk pada impian terealisasinya kesetaraan, kebebasan dan kebersamaan yang lebih mengglobal layaknya Revolusi Perancis kembali terdengar nyaring via email-email, mailing list, fasilitas chatting hingga Voice Chat, Web Camera maupun berbagai variasi situs dari situs Al Qaeda hingga Situs Porno yang setiap saat bisa diakses darimana saja.

Dalam sejarah pergerakan kaum muda di Indonesia, gerakan reformasi 1998 banyak tertolong dengan adanya internet. Represifnya orde baru yang membungkam kelompok kritis negeri ini ternyata bisa di tembus via email email yang saling ‘beterbangan’ menembus barikade panser dan menghindar dari kuping tajam intel intel orde baru saat itu. Berbagai konsolidasi antar organ gerakan, antar aktifis baik yang bermukin di dalam negeri maupun yang di luar negeri efektif terjadi. Hingga akhirnya Soeharto terjungkal dari kursi kepresidenan yang telah didudukinya selama 32 tahun terjadi.

Internet sebagai sarana informasi memang memiliki kelebihan kelebihan disbanding sarana informasi sebelumnya. Bahkan para penggagas pertama dulupun bisa jadi tidak membayangkan kalau perkembangannya menjadi secepat ini. Internet baik yang didukung coorporate seperti Microsoft maupun kalangan Open Source telah berkembang menggunakan logika lompatan lompatan kuantum yang memiliki logika ruang dan waktu yang berbeda. Dimana jarak menjadi terlipat karena teratasi dengan informasi di berbagai belahan dunia bisa diakses dari mana saja, dan lorong waktu seakan tertekuk karena kecepatan transfer data yang tidak terbayangkan sebelumnya.

IMM sebagai bagian dari kaum terpelajar negeri ini tentunya memiliki berbagai tantangan menghadapi perkembangan ini. Pertama, tantangan kompetensi kader dalam memanfaatkan sarana ini. Kedua, kesiapan kader merubah paradigma gerakan dimana egalitarian, kecepatan dan detail detail menjadi hal yang merubah pola birokrasi dalam organisasi. Ketiga, kesiapan baik kader secara personal maupun IMM secara kelembagan untuk menjadikannya sebagai ’proyek gerakan budaya massa’ dimana idealisme, keyakinan dan identitas IMM dipertaruhkan apakah akan survive atau akan tereliminasi dalam logika seleksi alam ala Darwin.

Tantangan kompetensi kader dalam memanfaatkan sarana internet seharusnya bukan masalah lagi. IMM yang saat ini masih cukup kuat dalam perekrutan anggota dari berbagai disiplin keilmuan seharusnya tidak perlu mengkhawartirkan masalah ini. Dimana dunia kemahasiswaan hari ini identik dengan dunia IT. Namun bagaimana kenyataannya di lapangan ? Ternyata masih banyak kader yang kurang memiliki ketertarikan untuk menjadikan IT sebagai bagian dari kehidupannya. Hal ini tercermin dari aktifitas organisasi yang tidak banyak menggunakan sarana IT seperti email, khususnya di level pimpinan. Bisa dikatakan semakin tinggi level kepemimpinan di IMM, akan dihuni kader kader yang semakin gagap teknologi.

Hal ini disebabkan karena kader kader dengan kompetensi tinggi tidak banyak terakomodasi dalam struktural IMM. Bukan karen mereka tidak bisa, namun di IMM tidak terbentuk budaya cerdas yang memungkinkan kader kader berkompetensi teknis tinggi, tidak sekedar IT, nyaman berada di struktural IMM. Ini imbas dari iklim politisasi proses organisasi yang sempit dan rendahan yang berkembang di kalangan IMM yang membuat mereka jengah, disamping juga kemalasan para pejabat struktural IMM untuk terus belajar dengan perkembangan teknologi baru.

Hal diatas akan mempengaruhi bagaimana IMM menghadapi tantangan kedua di atas. Dimana dengan kondisi kompetensi kader struktural IMM yang gagap internet akan mempengaruhi pola kebijakan dan reformasi budaya organisasi yang birokratis menuju budaya organisasi yang egaliter. IT menawarkan fasilitas yang memungkinkan migrasi pola organisasi dari birokratis menjadi egaliter, dari komunikasi politik menjadi pola komunikasi intelektual dan dari budaya ’kampungan’ atau ’ urban pinggiran’ menuju budaya kota yang siap menghadapi semua persoalan denga rasio rasio yang terukur dan berkecepatan tinggi layaknya dunia bisnis.

Bila hal hal diatas tetap tidak ada rekayasa untuk mengantisipasinya, IMM bersama ide ide, keyakinan dan identitas identitasnya akan dalam waktu tidak begitu lama akan kabur dan hilang. Karena idealisme, keyakinan dan identitas ikatan bukan sekedar benar dan salah ketika harus bertarung dalam dunia baru ini, namun juga cerdas atau tidak para pengusungnya, dalam tidaknya kader pengusungnya berfikir, banyak tidaknya referensi baru dan tersistematis dalam pola fikir kaderpengusungnya, cepat apa tidak pikiran dan gerak para pengusungnya dan berani atau tidak melakukan negosiasi negosiasi kultural, intelektual maupun politik dalam kecepatan tinggi dan ruang dunia yang mampat dan terlipat.

Adalah mengerikan bila itu terjadi, IMM bukan akan tamat, namun IMM akan dihuni manusia manusia kalah yang berkarakter reaktif, selalu berfikir negatif, gampang mengeluh dan menyerah dengan keadaan, selalu mencari kambing hitam dan menjadikan materi dan juga perut sebagai variabel utama kehidupan. Impian masyarakat madani, masyarakat yang terjamin kehidupannya karena kontrak kontrak sosial yang rasional, dan juga masyarakat yang selalu berfikir untuk selalu berinvestrasi sosial dalam kesehariannya tidak akan melibatkan IMM di dalamnya.

Fenomena Buku tamu dan Kolom Artikel di Website www.imm.or.id

Akhir akhir ini banyak sorotan dari berbagai kalangan mengenai website www.imm.or.id sebagai salah satu wujud ekspresi kader IMM dalam dunia Cyber. Banyak yang menyayangkan bentuk ekspresi pengunjung yang mengaku kader menjadikan buku tamu website resmi IMM ini sebagai sarana ’perang kepentingan’ hingga ungkapan yang menuju vandalisme. Namun, ada juga tanggapan positif ketika banyak penulis artikel di kolom artikel website ini.

Melihat dua hal di atas, bisa dikatakan dia fasilitas di website IMM itu mewakili dua komunitas kader yang berbeda. Dua duanya bisa dikatakan mewakili komunitas kader kritis, namun keduanya lahir dari kedewasaan diri yang jauh berbeda.

Komunitas para penghujat di buku tamu mewakili kelompok yang memang daya intelektualitasnya rendah. Rasio rasionya masih terkalahkan oleh emosi emosinya. Sehingga mereka banyak berkomunikasi dengan marah. Seakan teriakan jalanan, umpatan dan makian menjadi kebanggaan sebagai bagian dari kelompok kritis.

Fenomena ini banyak terjadi di kalangan kaum pinggiran yang ’mungkin’ merasa tertindas dan terbungkam jalur komunikasinya. Bisa jadi selama ini mereka yang kurang terasah perangkat intelektualnya ini selalu merasa ’tertindas’ oleh struktur IMM yang ada. Kelompok ini secara substansi adalah kelompok kritis yang menjadi investasi ikatan untuk mengawal sebagai kekuatan kritis dan peka terhadap lingkungan. Namun, adalah tugas para pengkader, instruktur dan perangkat kebijakan IMM untuk menaikkan posisi mereka tidak sekedar tukang provokasi dan tukang marah semata. Bagaimanapun IMM adalah gerakan intelektual.

Sementara itu, para penulis artikel di website IMM bisa kita sebut sebagai wakil kader yang secara intelektual sudah tercerahkan. Mereka setidaknya berani mengungkapkan alasan alasan dalam menyikapi perkembangan baik di dalam IMM sendiri maupun di luar IMM, seperti Muhammadiyah dan Negara. Merekalah wakil dari kader kader intelektual IMM yang bila dikembangkan bisa menjadi aset berharga bagi perkaderan selanjutnya.

Repotnya, kelompok vandalis di bukutamu tadi akan sulit memahami apa yang menjadi pola fikir kelompok intelektual. Hal yang paling bijak adalah terus memberi ruang publik kepada mereka sekaligus menjadi pekerjaan rumah bagi para penjaga perkaderan IMM untuk membangun Sumber Daya Intelektual mereka sekaligus normatifitas mereka dimana keberhasilan perkaderan IMM sebagai transfer pengetahuan , Pembangunan karakter dan penanaman nilai nilai Ikatan menjadi pertaruhan.


Tulisan Diambil dari Website www.imm.or.id


Penulis : Administrator website www.imm.or.id, www.muhammadiyah.or.id dan member berbagai mailing list Muhammadiyah.